Slider

Upacara Bendera Hari Ibu Ke 91 Tahun 2019

LLDIKTI Wilayah VIII melaksanakan Upacara Bendera memperingati Hari Ibu Ke 91 Tahun 2019 yang dipimpin langsung oleh Kepala LLDIKTI Wilayah VIII Prof Dr I Nengah Dasi Astawa, M.Si, pada Senin 23 Desember 2019 di Halaman Kantor LLDIKTI Wilayah VIII.Dalam Apel ini juga ada penyerahan SK Guru Besar. Upacara ini di hadiri oleh PTS yang ada di Lingkungan LLDIKTI Wilayah VIII.

Prof Dasi membacakan Pidato Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI I Gusti Ayu Bintang Darmawati menjelaskan bahwa, Hakekat Peringatan Hari Ibu (PHI) setiap tahunnya adalah mengingatkan seluruh rakyat Indonesia, terutama generasi muda akan arti dan makna Hari Ibu sebagai sebuah momentum kebangkitan bangsa, penggalangan rasa persatuan dan kesatuan serta gerak perjuangan kaum perempuan yang tidak dapat dipisahkan dari sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Untuk itu sebagai apresiasi atas gerakan yang bersejarah itu, PHI ditetapkan setiap tanggal 22 Desember sebagai hari nasional.

Perempuan Indonesia masa kini adalah perempuan yang harus sadar bahwa mereka mempunyai akses dan memiliki kesempatan yang sama dengan laki-laki untuk memperoleh sumber daya, seperti akses terhadap ekonomi, politik, sosial, dan sebagainya. Begitu juga pengasuhan dalam keluarga, peran dan tanggung jawab laki-laki dan perempuan dalam pengasuhan anak tidak hanya orang tua namun perlu didukung oleh semua pihak.

Selain Itu Prof Dasi, juga memberikan pengarahan kepada para peserta yang hadir terutama kepada dosen – dosen muda untuk segera naik pangkat menjadi lektor atau lektor kepala. Lektor kepala banyak yang sudah menurun karena banyak yang sudah pensiun.

“ Bagi yang masih S2 segera tulis 2 jurnal internasional yang bereputasi walaupun S2 kalian bisa lector kepala, karena untuk menempuh S3 membutuhkan waktu yang lama, jadi jalan pintasnya tulis jurnal,”ucap Prof Dasi

Para dosen semua harus membantu rector, dekan,kaprodi untuk akreditasi. Dosen juga memiliki tanggung jawab atas akreditasi kampus karena dosen sudah menerima serdos.

“ Jika kampus dari memperoleh akreditasi B menjadi akreditasi C atau tidak terdengar kira- kira bagaimana tanggung jawab akademik dan sosial anda terhadap mahasiswa yang dulunya masuk akreditasi B biar bisa mendaftar, lalu dia masih proses perkuliahan setelah tamat akreditasi menjadi C,”tegasnya.

Dari 8500 dosen ada sekitar 3500 dosen yang tidak memiliki Jafung. “Sekarang jafung 360 sudah saya buka dulu masih 2 kali, saya rubah jadi 4 kali, sekarang 360 kali jadi tidak ada kata belum naik pangkat,”ujar Prof Dasi.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *