Slider

Di Hadiri 2000 Peserta, Wapres Jusuf Kalla Buka Secara Resmi Peringatan Hakteknas

Wakil Presiden Jusuf Kalla membuka secara resmi peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Harketnas) ke-24 di Lapangan Puputan Renon Denpasar, Kamis (28/8).

Sekitar 2 ribu peserta hadir dalam peringatan Harketnas tersebut. Mereka berasal dari para peneliti, inovator, akademisi, para mahasiswa pelajar, para penemu, badan usaha milik pemerintah dan swasta, serta pemerintah daerah dari seluruh Indonesia.

Dalam sambutannya Wapres Jusuf Kalla mengatakan bahwa, semua yang lebih baik, lebih efisien, lebih cepat, itulah inovasi. Harteknas ini juga harus diperingati secara efisien, efektif.  Kemajuan selalu didasari nilai tambah, cara kerja, sistem. Dan semuanya berasal dari pendidikan. “Kemajuan memiliki dasar bahwa pendidikan kita harus lebih baik dari tahun ke tahun. Saya selalu hadir dalam peringatan Harteknas. Ini adalah kepedulian saya terhadap teknologi di Indonesia. Namun seharusnya, yang bisa dipamerkan harus penelitian terbaru, minimal satu tahun terakhir. Jangan sampai hal-hal lama dipamerkan lagi,” ujarnya. 

Menurutnya,  Indonesia saat ini sangat tertinggal dalam kemajuan teknologi dan inovasi. “Kita semua memahami, memiliki ketertinggalan dibanding dengan banyak negara lainnya di dunia. Indeks global inovasi Indonesia masih jauh, di nomor 85 dari 280 negara lainnya di dunia. Sementara Cina di urutan ke-5. “Memang tidak ada negara yang langsung maju dengan inovasi, prosesnya. 4500 universitas, inovasinya 85. Jangan sampai banyak acara, kemajuan itu ada di Lab, bukan di upacara. Sekiranya suatu negara maju dengan peraturan, upacara, seremoni, maka Indonesia adalah negara maju. Cina punya 2500 universitas. Kita 4500 universitas. Artinya, jumlah universitas tidak relevan dengan inovasi yang ada. Harus terus maju, bandingkan dengan tahun lalu, apa yang sudah dibuat, apa yang belum dibuat. Menteri harus membuat neraca. Masa lalu penting untuk sejarah, namun masa depan itu lebih penting, yang saat ini adalah teknologi. Buatlah target, kapan Indonesia masuk ke urutan 50, kapan urutan ke-25. Ini harus punya terget,” ujarnya

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *