78 Persen Dosen Lektor Kepala Bakal Pensiun dalam 10 Tahun

Usulan jabatan akademik dari Lektor ke Lektor Kepala di LLDIKTI Wilayah VIII masih stagnan. “Sampai saat ini baru lima orang dosen yang mengusulkan Lektor Kepala dan baru satu yang selesai. Padahal 378 dari 485 orang dosen tetap Lektor Kepala bakal pensiun dalam 10 tahun,” ujar Made Kresnawan, SE., MM., Kabag Akademik Kemahasiswaan dan Sumber Daya dalam acara Workshop Penilaian Angka Kredit (PAK) Jabatan Fungsional bagi Dosen Tetap PTS di lingkungan LLDIKTI Wilayah VIII di Mataram (9/7/2019) hari ini.

“Stagnasi ini diakibatkan oleh masih rendahnya dosen tetap dalam menghasilkan karya ilmiah yang bisa dijadikan syarat khusus dalam usulan Lektor Kepala dan Guru Besar”, ungkapnya.

Kresnawan juga menyampaikan bahwa pemeringkatan Perguruan Tinggi (PT) bergantung pada sumber daya, yakni perbandingan jumlah dosen Lektor Kepala dan Guru Besar terhadap jumlah dosen tetap di PT, termasuk berapa dosen tetap yang berpendidikan S3. “Semoga workshop kali ini dapat memberikan pemahaman akan pentingnya dosen meningkatan jabatan akademik,” harapnya.

Workshop PAK yang berlangsung di Hotel Lombok Raya dan diikuti oleh 100 orang perwakilan PTS di NTB ini menghadirkan dua orang narasumber, yakni Prof. Dr. I Nengah Dasi Astawa, M.Si. yang memaparkan terkait Kebijakan Jabatan Akademik Dosen dan Prof. Dr. Nyoman Semadi Antara, M.P., Ph.D. yang memaparkan Mekanisme Pengusulan Jabatan Akademik Dosen. Moderator workshop ini adalah Prof. Dr. Muhammad Tajuddin, M.Si., Dosen PNS DPK di Universitas Bumigora dan juga Tim PAK Usulan Lektor Kepala dan Guru Besar LLDIKTI Wilayah VIII.

Prof. Dasi dalam pembukaan acara menyampaikan bahwa program-program yang dijalankan untuk melayani PTS sudah sangat gencar, termasuk kegiatan karier dosen. Namun tingkat produktifitas untuk naik jabatan akademik masih minim. “Ternyata setelah saya observasi mendalam pada dosen-dosen muda, ada yang menjadi dosen hanya iseng-iseng saja, karena tidak dapat PNS. Sebaiknya dosen juga jangan hanya memikirkan honor mengajar saja.” ujarnya.

Menurut Prof. Dasi, adanya salah pengertian antara yayasan dan pimpinan PTS bahwa naik jabatan akademik hanya akan menjadi beban gaji. Padahal peningkatan jabatan akademik dosen itu terkait dengan peningkatan mutu termasuk akreditasi. “Di NTB masih ada saya lihat pimpinan PTS yang sudah lima tahun menjabat, tapi tidak ada peningkatan akreditasi, tetap C saja. Berarti pimpinan tidak bekerja dan dosennya tidak berkarya maksimal. Melalui riset dan karya ilmiah, dosen bisa mendapat koin dan poin, sekaligus meningkatkan reputasi PTS”, pungkasnya.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *